Minggu, 13 November 2011

OBAT RELIEVER

Obat reliever bekerja cepat untuk menghilangkan bronkokonstriksi dan gejala akut lain yang menyertai. Yang termasuk dalam golongan ini adalah inhalasi beta2-agonis short acting, kortikosteroid sistemik, antikolinergik inhalasi, teofilin short acting dan beta2-agonis oral short acting. 

Beta2-AgonisInhalasi Short Acting
Seperti beta2-agonis yang lain, obat ini menyebabkan relaksasi otot polos saluran nafas, meningkatkan klirens mukosilier, mengurangi permeabilitas vaskuler dan mengatur pelepasan mediator dari sel mast dan basofil.Merupakan obat pilihan untuk asma eksaserbasi akut dan pencegahan exercise induced asthma. Juga dipakai untuk mengontrol bronkokonstriksi episodik. Pemakaian obat ini untuk pengobatan asma jangka panjang tidak dapat mengontrol gejala asma secara memadai, juga terhadap variabilitas peak flow atau hiperrespon saluran nafas. Hal ini juga dapat menyebabkan perburukan asma dan meningkatkan kebutuhan obat antiinflamasi. 
  
Kortikosteroid Sistemik
Walaupun onset dari obat ini adalah 4-6 jam, obat ini penting untuk mengobati eksaserbasi akut yang berat karena dapat mencegah memburuknya eksaserbasi asma, menurunkan angka masuk UGD atau rumah sakit, mencegah relaps setelah kunjungan ke UGD dan menurunkan morbiditas.Terapi oral lebih dipilih, dan biasanya dilanjutkan 3-10 hari mengikuti pengobatan lain dari eksaserbasi. Diberikan 30 mg prednisolon tiap hari untuk 5-10 hari tergantung derajad eksaserbasi. Bila asma membaik, obat bisa dihentikan atau ditappering. 

Antikolinergik
Obat antikolinergik inhalasi (ipratropium bromida, oxitropium bromida) adalah bronkodilator yang memblokade jalur eferen vagal postganglion. Obat ini menyebabkan bronkodilatasi dengan cara mengurangi tonus vagal intrinsik saluran nafas. Juga memblokade refleks bronkokonstriksi yang disebabkan iritan inhalasi. Obat ini mengurangi reaksi alergi fase dini dan lambat juga reaksi setelah exercise. Dibanding beta2-agonis, kemampuan bronkodilatornya lebih lemah, juga mempunyai onset kerja yang lambat (30-60 menit untuk mencapai efek maksimum). Efek sampingnya adalah menyebabkan mulut kering dan rasa tidak enak. 

Teofilin Short Acting
Aminofilin atau teofilin short acting tidak efektif untuk mengontrol gejala asma persisten karena fluktuasi yang besar didalam konsentrasi teofilin serum. Obat ini dapat diberikan pada pencegahan exercise induced asthma dan menghilangkan gejalanya. Perannya dalam eksaserbasi masih kontroversi. Pada pemberian beta2-agonis yang efektif, obat ini tidak memberi keuntungan dalam bronkodilatasi, tapi berguna untuk meningkatkan respiratory drive atau memperbaiki fungsi otot respirasi dan memperpanjang respon otot polos terhadap beta2- agonis short acting. 

Beta2-AgonisOral Short Acting
Merupakan bronkodilator yang merelaksasi otot polos saluran nafas.
Dapat dipakai pada pasien yang tidak dapat menggunakan obat inhalasi.

DAFTAR PUSTAKA
  1. Homer A. Bousey,MD, µBronchodilators & Other Drugs Used in Asthma, Basic and Clinical Pharmacology, edited by B.G. Katzung, 7th edition, Appleton & Lange, 1998. 
  2. Richards, Duncan; Aronson, Jeffrey . Oxford Handbook of Practical Drug Therapy, 1st Edition. Oxford University Press.2005 
  3. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. PEDOMAN DIAGNOSIS & PENATALAKSANAAN ASMA BRONKIAL. PDPI 
  4. Baines. J.Peter .´ Asthma ³ dalam Harrison¶s Principle of InternalMedicine.17 th Edition. McGRAW-HILL.2008
  5. HanleyMichael E and Carolyn H. Welsh. Asthma. DalamCurrent Diagnosis & Treatment in Pulmonary Medicine.1st E dit io n.McGR AW- HI LL. 2003 
  6. Koentjahja Syarifudin, SpP. KORTIKOSTEROID PADA ASMA KRONIS.


0 komentar:

Posting Komentar